Create Your First Project
Start adding your projects to your portfolio. Click on "Manage Projects" to get started
Makam Belanda Peneleh
Lokasi
Jl. Makam Peneleh, Peneleh, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60274
Makam Belanda Peneleh di Surabaya merupakan pemakaman kolonial tertua kedua di Indonesia setelah Kebun Jahe Kober Jakarta, menjadi saksi sejarah kolonialisme Belanda di Hindia. Awalnya, pemakaman orang Eropa dilakukan di sekitar gereja, namun karena alasan kesehatan, lokasi pemakaman dipindahkan ke Krembangan pada tahun 1793. Seiring waktu, Krembangan penuh sehingga pada tahun 1825 Majelis Gereja meminta kepada Residen Surabaya untuk membuka pemakaman baru di kawasan Peneleh. Proyek pembangunan Makam Peneleh dimulai pada 26 Februari 1846 di bawah pengawasan insinyur Geil dan diresmikan oleh Dr. WR van Hoëvell pada 1 Desember 1847 dengan luas awal sekitar 4,5 hektar, berkembang menjadi 5,4 hektar, dan terletak di luar batas kota Surabaya dekat Kebon Rojo. Pemakaman ini dirancang mewah dengan sistem kuburan pasir (sewa) dan kuburan ruang bawah tanah (permanen), serta memiliki gedung kremasi.
Makam Peneleh terhubung dengan dermaga Sungai Peneleh untuk memudahkan proses pemakaman jenazah yang dibawa dari pusat kota. Banyak tokoh penting Hindia Belanda dimakamkan di sini, seperti Pieter Merkus (Gubernur Jenderal Hindia Belanda), Van der Tuuk (pencetus bahasa Indonesia), Bayer (pemilik pabrik baja terbesar di Hindia), Van der Elzen (Pastor Katolik Yesuit pertama di Hindia pada 1859), dan para suster Ursulin. Karakteristik pemakaman ini terlihat dari nisan-nisan dengan kode, simbol salib, malaikat kecil, batu marmer, baja, serta desain khas kolonial. Satu liang kubur dapat diisi lebih dari dua jenazah dari satu keluarga dengan sistem tumpuk. Makam ini bersifat umum, menerima jenazah dari berbagai latar belakang agama seperti Protestan, Katolik, Yahudi, Freemason, dan warga Cina serta Jepang, dengan tulisan nisan dalam bahasa Belanda, Jerman, Inggris, Kanji Jepang, dan Cina, namun tidak ada orang pribumi yang dimakamkan di sini.
Karena banyaknya permintaan, pada tahun 1915 Makam Peneleh penuh, sehingga dibuka kompleks pemakaman baru di Kembang Kuning pada tahun 1916. Lebih dari 10.000 jenazah telah dimakamkan di Makam Peneleh, namun kini hanya sekitar 3.500 nama yang masih tercatat. Makam Peneleh bukan hanya menjadi tempat pemakaman, tetapi juga menjadi catatan sejarah penting tentang dinamika kehidupan, perbedaan bangsa, dan kebijakan kolonial pada masa Hindia Belanda di Surabaya, menjadikannya salah satu situs sejarah kolonial yang penting untuk dipelajari generasi sekarang.
.png)

